Translate

Minggu, 15 Juli 2012


Kreasi Kuliner Pangan Indonesia
Pada Produk Peternakan Dengan Sistem ASUH

            Indonesia sudah tidak dipungkiri lagi menjadi negara yang terkenal dengan berbagai macam kebudayaan. Dengan ribuan pulau yang terhampar diseluruh penjuru negeri, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negera yang kaya sumber daya alamnya. Beragam kebudayaan di Indonesia diimbangi dengan beragamnya jenis-jenis makanan tradisional. Makanan yang menjadikan subuah ciri khas dari setiap daerah menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki keanekaragaman kuliner di dunia. Setiap daerah di Indonesia memiliki makanan khas yang mencirikan keberadaan suatu wilayah baik dalam lingkup nasional hingga Internasional.
            Opor ayam, tumis kangkung, semur daging, rendang, dendeng, gudeg, pecel, dan masih banyak lagi makanan khas lainnya menjadi contoh keberagaman pangan nusantara. Pangan yang berkualitas baik dengan nilai gizi yang seimbang menjadi kebutuhan yang mendasar bagi masyarakat, namun di Indonesia hal yang terpenting adalah kehalalan dari produk pangan tersebut, terutama pangan asal hewan. Hal ini disebabkan karena Indonesia dihuni lebih dari 70% penduduk yang beragama islam. Halal menjadi suatu kewajiban dalam pangan bagi agama islam (umat muslim). Produk peternakan merupakan salah satu produk yang menjadi sorotan utama dalam bidang kehalalan pangan, pasalnya produk peternakan lah yang menjadi primadona masyarakat Indonesia dengan tingkat konsumtif yang tinggi. Berbagai macam produk pangan peternakan seperti daging, telur dan susu menjadi bahan dasar dalam proses pengolahan pangan yang kehalalannya selalu dipertanyakan.

Aman, Sehat, Utuh, dan  Halal (ASUH)
Hasil olahan pangan yang sehat dan bergizi tinggi telah melewati serangkaian proses, mulai dari hulu hingga hilir. Tahapan yang dilakukan terhadap bahan baku utama produk peternaka seperti daging, telur, dan susu akan diproses sesuai dengan tujuan pengolahan bahan baku dengan memperhatikan aspek keamanan, kebersihan, dan keutuhan kandungan nutrisi dari bahan baku, serta kehalalan yang lebih diutamakan bagi umat muslim. Penerapan sistem ASUH dikalangan peternak mulai diterapkan dibeberapa wilayah di Indonesia. Pada ternak ayam, di Jakarta Timur tepatnya di RPA (Rumah Potong Ayam) Rawa Kepiting telah menerapkan sistem ASUH pada proses pemotongannya. Metode yang diterapkan  di RPA setempat adalah dengan memotong secara islami, yaitu dengan meniatkan karena Allah dan membaca Basmallah serta doa. Selain itu, ayam yang sudah dipotong atau disembelih dan sudah dicabuti bulunya kemudian direndam dalam air dingin bersuhu 4oC selama 2 jam. Ayam yang direndam akan memiliki kualitas yang baik, karena pori-pori pada ayam tertutup sehingga daging ayam tidak terkontaminasi dari bakteri dan terlihat lebih segar, serta dapat menghambat pertumbuhan mikroba yang akan membuat daging ayam cepat busuk. Permintaan ayam ASUH di RPA Rawa Kepiting setiap harinya cukup baik, yaitu terjual lebih dari 200 ekor.
Tingkat kesadaran masyarakat untuk hidup sehat (go green) mulai booming beberapa tahun kebelakang ini.                Penerapan sistem ASUH ini perlu diterapkan diberbagai peternakan dan juga rumah potong hewan lainnya agar kualitas pangan di Indonesia semakin baik. Penerapan sistem ASUH pada bagian hulu akan memberikan dampak yang baik pada bagian hilirnya. Keberagaman kuliner Indonesia yang berbahan baku produk peternakan seperti rendang, serundeng daging, sate daging dan telur, opor ayam, susu, keju, dan makanan lainnya yang menerapkan sistem ASUH akan menjadi makanan yang standar kesehatan dan kebutuhan gizi bagi masyarakat dan juga dapat dikonsumsi oleh semua golongan, terutama umat islam yang memperhatikan kehalalan pada setiap makanan. Penerapan sistem ASUH dari hulu hingga hilir perlu didukung oleh pemerintah dan juga masyarakat agar kualitas dari pangan Indonesia terutama produk peternakan mampu memenuhi kebutuhan dan menyehatkan baik secara jasmani maupun rohani serta kandungan protein asal hewani dapat membantu membangun karakter yang baik bagi masyarakat untuk mencerdaskan bangsa.
           
Teknologi pada Makanan Tradisional

      Keberagaman makanan dari setiap daerah menandakan bahwa masyarakat Indonesia memiliki kreativitas yang tinggi. Keberagaman kuliner Indonesia memiliki cita rasa yang berbeda dari setiap daerah. Makanan Indonesia sudah banyak yang diakui secara nasional maupun internasional. Beberapa makanan yang menjadi sorotan nasional maupun internasional adalah tempe, gado-gado, sate, rendang, bakso, soto, gudeg, dan makanan lainnya. Hal yang membuat makanan Indonesia terkenal di dunia salah satunya adalah banyaknya turis yang berkunjung ke Indonesia dan merasakan beberapa makanan Indonesia. Makanan asli Indonesia, tempe, telah menjadi makanan favorit masyarakat Indonesia bahkan keberadaan tempe sudah sampai ke Amerika dan Eropa. Dukungan dari stekholder terkait pun mulai berdatangan, Badan Standar Nasional (BSN) telah menetapkan tahun 2011 lalu tentang standar tempe tingkat internasional dalam  proyek New Work of Standard Regional Codex on Tempe. Bentuk olahan pangan yang berasal dari produk hewani adalah daging rendang yang berasal dari tanah Sumatera. Survei yang dilakukan lembaga survei dunia CNN, menempatkan rendang pada urutan pertama dalam World's 50 Most Delicious Foods. Banyaknya kuliner Indonesia yang telah diakui dunia perlu adanya proses pemasaran yang luas. Penerapan teknologi pada masakan Indonesia menjadi sebuah inovasi yang dapat mengembangkan kuliner Indonesia baik secara nasional maupun internasional.

Salah satu bentuk penerapan teknologi adalah dengan menggunakan proses pengalengan pada pangan nasional. Penerapan tersebut bertujuan untuk mempermudah makanan khas Indonesia dalam pemasaran secara nasional ataupun di ekspor. Hal ini dapat membangun jiwa nasionalisme dalam bidang makanan. Proses penyertaan label kehalalan pada produk kaleng wajib dicantumkan dalam penerapan teknologi tersebut.
            Peran stekholder memiliki posisi yang penting dalam proses penerapan teknologi pada kuliner Indonesia. Pasalnya pionir-pionir masakan tradisional ini dikelola oleh para masyarakat dalam lingkup usaha kecil dan menegah. Balai Pengenmbangan Proses dan Teknologi Kimia LIPI, BPOM dan juga LPPOM MUI (lembaga serifikasi kehalalan) telah menjalin kerjasama dengan pemilik usaha gudeg di Yogyakarta dalam proses pengalengan. Gudeg yang diproduksi melalui penerapan teknologi pengalengan dengan sertifikasi kehalalan ini memproduksi 50.000 kaleng setiap bulannya dan dipasarkan keseluruh Indonesia hingga menembus pasar internasional (Singapura, Jepang, Inggris, dan Timur Tengah).

Pusat Kehalalan Dunia
            Sebagai negara muslim terbanyak di dunia, Indonesia memiliki posisi yang stratgis untuk menjadi pusat kehalalan dunia. Perhimpunan Lembaga Sertifikasi Halal Dunia (WHC) yang terdiri dari Amerika Serikat, Belgia, New Zealand, Australia, Brazil, Swiss, Jerman, Belanda, Polandia, Italia, Spanyol, Malaysia, Singapura, Philipina, Turki, Taiwan, dan Indonesia dibentuk di Jakata pada tahun 1999. Saat ini lembaga tersebut memiliki visi “bersama dalam menerapkan standar sertifikasi halal dunia” dan dipimpin oleh Indonesia. Keberadaan lembaga tersebut di Indonesia mendapat sambutan baik dari pemerintah dan akan menjadikan Indonesia sebagai pusat kehalalan dunia. Undang-undang dan standarisasi kehalalan nasional sedang dalam proses penyusunan. Percontohan produk kehalalan dunia dapat diaplikasikan melalui kuliner khas Indonesia dengan menerapkan sistem ASUH agar kualitas pangan nasional menjadi contoh makanan yang aman dikonsumsi, sehat, utuh, dan halal.



Oleh : Hafidz Ilman Albana
*Koordinator ISMAPETI (Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia) Wilayah 2 Indonesia.

Tidak ada komentar: