Kreasi Kuliner Pangan Indonesia
Pada Produk Peternakan Dengan
Sistem ASUH
Indonesia sudah tidak dipungkiri
lagi menjadi negara yang terkenal dengan berbagai macam kebudayaan. Dengan
ribuan pulau yang terhampar diseluruh penjuru negeri, menjadikan Indonesia
sebagai salah satu negera yang kaya sumber daya alamnya. Beragam kebudayaan di
Indonesia diimbangi dengan beragamnya jenis-jenis makanan tradisional. Makanan
yang menjadikan subuah ciri khas dari setiap daerah menjadikan Indonesia
sebagai salah satu negara yang memiliki keanekaragaman kuliner di dunia. Setiap
daerah di Indonesia memiliki makanan khas yang mencirikan keberadaan suatu
wilayah baik dalam lingkup nasional hingga Internasional.
Opor ayam, tumis kangkung, semur
daging, rendang, dendeng, gudeg, pecel, dan masih banyak lagi makanan khas
lainnya menjadi contoh keberagaman pangan nusantara. Pangan yang berkualitas
baik dengan nilai gizi yang seimbang menjadi kebutuhan yang mendasar bagi
masyarakat, namun di Indonesia hal yang terpenting adalah kehalalan dari produk
pangan tersebut, terutama pangan asal hewan. Hal ini disebabkan karena
Indonesia dihuni lebih dari 70% penduduk yang beragama islam. Halal menjadi
suatu kewajiban dalam pangan bagi agama islam (umat muslim). Produk peternakan
merupakan salah satu produk yang menjadi sorotan utama dalam bidang kehalalan
pangan, pasalnya produk peternakan lah yang menjadi primadona masyarakat
Indonesia dengan tingkat konsumtif yang tinggi. Berbagai macam produk pangan
peternakan seperti daging, telur dan susu menjadi bahan dasar dalam proses
pengolahan pangan yang kehalalannya selalu dipertanyakan.
Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH)
Hasil
olahan pangan yang sehat dan bergizi tinggi telah melewati serangkaian proses,
mulai dari hulu hingga hilir. Tahapan yang dilakukan terhadap bahan baku utama
produk peternaka seperti daging, telur, dan susu akan diproses sesuai dengan
tujuan pengolahan bahan baku dengan memperhatikan aspek keamanan, kebersihan,
dan keutuhan kandungan nutrisi dari bahan baku, serta kehalalan yang lebih
diutamakan bagi umat muslim. Penerapan sistem ASUH dikalangan peternak mulai
diterapkan dibeberapa wilayah di Indonesia. Pada ternak ayam, di Jakarta Timur
tepatnya di RPA (Rumah Potong Ayam) Rawa Kepiting telah menerapkan sistem ASUH
pada proses pemotongannya. Metode yang diterapkan di RPA setempat adalah dengan memotong secara
islami, yaitu dengan meniatkan karena Allah dan membaca Basmallah serta doa. Selain itu, ayam yang sudah dipotong atau
disembelih dan sudah dicabuti bulunya kemudian direndam dalam air dingin
bersuhu 4oC selama 2 jam. Ayam yang direndam akan memiliki kualitas
yang baik, karena pori-pori pada ayam tertutup sehingga daging ayam tidak
terkontaminasi dari bakteri dan terlihat lebih segar, serta dapat menghambat
pertumbuhan mikroba yang akan membuat daging ayam cepat busuk. Permintaan ayam
ASUH di RPA Rawa Kepiting setiap harinya cukup baik, yaitu terjual lebih dari
200 ekor.
Tingkat
kesadaran masyarakat untuk hidup sehat (go
green) mulai booming beberapa
tahun kebelakang ini. Penerapan
sistem ASUH ini perlu diterapkan diberbagai peternakan dan juga rumah potong
hewan lainnya agar kualitas pangan di Indonesia semakin baik. Penerapan sistem
ASUH pada bagian hulu akan memberikan dampak yang baik pada bagian hilirnya.
Keberagaman kuliner Indonesia yang berbahan baku produk peternakan seperti
rendang, serundeng daging, sate daging dan telur, opor ayam, susu, keju, dan
makanan lainnya yang menerapkan sistem ASUH akan menjadi makanan yang standar
kesehatan dan kebutuhan gizi bagi masyarakat dan juga dapat dikonsumsi oleh
semua golongan, terutama umat islam yang memperhatikan kehalalan pada setiap
makanan. Penerapan sistem ASUH dari hulu hingga hilir perlu didukung oleh
pemerintah dan juga masyarakat agar kualitas dari pangan Indonesia terutama
produk peternakan mampu memenuhi kebutuhan dan menyehatkan baik secara jasmani
maupun rohani serta kandungan protein asal hewani dapat membantu membangun
karakter yang baik bagi masyarakat untuk mencerdaskan bangsa.
Teknologi pada Makanan Tradisional
Keberagaman makanan dari setiap daerah menandakan bahwa masyarakat Indonesia memiliki kreativitas yang tinggi. Keberagaman kuliner Indonesia memiliki cita rasa yang berbeda dari setiap daerah. Makanan Indonesia sudah banyak yang diakui secara nasional maupun internasional. Beberapa makanan yang menjadi sorotan nasional maupun internasional adalah tempe, gado-gado, sate, rendang, bakso, soto, gudeg, dan makanan lainnya. Hal yang membuat makanan Indonesia terkenal di dunia salah satunya adalah banyaknya turis yang berkunjung ke Indonesia dan merasakan beberapa makanan Indonesia. Makanan asli Indonesia, tempe, telah menjadi makanan favorit masyarakat Indonesia bahkan keberadaan tempe sudah sampai ke Amerika dan Eropa. Dukungan dari stekholder terkait pun mulai berdatangan, Badan Standar Nasional (BSN) telah menetapkan tahun 2011 lalu tentang standar tempe tingkat internasional dalam proyek New Work of Standard Regional Codex on Tempe. Bentuk olahan pangan yang berasal dari produk hewani adalah daging rendang yang berasal dari tanah Sumatera. Survei yang dilakukan lembaga survei dunia CNN, menempatkan rendang pada urutan pertama dalam World's 50 Most Delicious Foods. Banyaknya kuliner Indonesia yang telah diakui dunia perlu adanya proses pemasaran yang luas. Penerapan teknologi pada masakan Indonesia menjadi sebuah inovasi yang dapat mengembangkan kuliner Indonesia baik secara nasional maupun internasional.
Salah satu
bentuk penerapan teknologi adalah dengan menggunakan proses pengalengan pada
pangan nasional. Penerapan tersebut bertujuan untuk mempermudah makanan khas
Indonesia dalam pemasaran secara nasional ataupun di ekspor. Hal ini dapat
membangun jiwa nasionalisme dalam bidang makanan. Proses penyertaan label
kehalalan pada produk kaleng wajib dicantumkan dalam penerapan teknologi
tersebut.
Peran
stekholder memiliki posisi yang penting dalam proses penerapan teknologi pada
kuliner Indonesia. Pasalnya pionir-pionir masakan tradisional ini dikelola oleh
para masyarakat dalam lingkup usaha kecil dan menegah. Balai Pengenmbangan
Proses dan Teknologi Kimia LIPI, BPOM dan juga LPPOM MUI (lembaga serifikasi
kehalalan) telah menjalin kerjasama dengan pemilik usaha gudeg di Yogyakarta
dalam proses pengalengan. Gudeg yang diproduksi melalui penerapan teknologi
pengalengan dengan sertifikasi kehalalan ini memproduksi 50.000 kaleng setiap
bulannya dan dipasarkan keseluruh Indonesia hingga menembus pasar internasional
(Singapura, Jepang, Inggris, dan Timur Tengah).
Pusat Kehalalan Dunia
Sebagai negara muslim terbanyak di
dunia, Indonesia memiliki posisi yang stratgis untuk menjadi pusat kehalalan
dunia. Perhimpunan Lembaga Sertifikasi Halal Dunia (WHC) yang terdiri dari Amerika
Serikat, Belgia, New Zealand, Australia, Brazil, Swiss, Jerman, Belanda,
Polandia, Italia, Spanyol, Malaysia, Singapura, Philipina, Turki, Taiwan, dan
Indonesia dibentuk di Jakata pada tahun 1999. Saat ini lembaga tersebut
memiliki visi “bersama dalam menerapkan standar sertifikasi halal dunia” dan dipimpin
oleh Indonesia. Keberadaan lembaga tersebut di Indonesia mendapat sambutan baik
dari pemerintah dan akan menjadikan Indonesia sebagai pusat kehalalan dunia.
Undang-undang dan standarisasi kehalalan nasional sedang dalam proses
penyusunan. Percontohan produk kehalalan dunia dapat diaplikasikan melalui
kuliner khas Indonesia dengan menerapkan sistem ASUH agar kualitas pangan
nasional menjadi contoh makanan yang aman dikonsumsi, sehat, utuh, dan halal.
Oleh
: Hafidz Ilman Albana
*Koordinator
ISMAPETI (Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia) Wilayah 2 Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar