Translate

Minggu, 01 Juli 2012

Cinta Untuk Bersahabat Dengan Peternakan



“Masalah pertanian adalah masalah hidup dan matinya suatu Bangsa”
Presiden Republik Indonesia ke-1
_ Ir. Soekarno_
            Sebuah perkataan yang singkat namun penuh dengan makna perjuangan. Sudut pandang presiden mengenai pertanian menjadi suatu hal yang penting dimasanya hingga saat ini, namun seiring dengan berjalannya waktu, era globalisasi telah singgah di Indonesia dan membuat suatu perubahan dalam bidang pertanian. Ladang sawah, perkebunan, pertambakan, dan peternakan sudah banyak berubah menjadi gedung-gedung tinggi perkantoran dan perumahan. Sebuah ironi bangsa yang besar dengan jumlah penduduk saat ini mencapai 237 juta jiwa tidak diimbangi dengan lahan-lahan pertanian dalam arti luas yang memang dibutuhkan untuk kepentingan masyarakat Indonesia. Sebagai contoh dalam pertanian, Karawang yang dikenal sebagai kota lumbung padi, kini tempat-tempat strategis yang dahulunya adalah ladang sawah berubah menjadi gedung-gedung yang bersifat pribadi. Samah halnya dalam bidang peternakan. Di Jakarta, didaerah Kuningan, dahulu masih terdapatnya banyak kelompok peternakan sapi perah, namun kebijakan dari Pemrov DKI telah merubah peternakan menjadi gedung perkantoran. Saat ini di Kuningan hanya terdapat 1 peternak sapi perah yang dahulu mencapai 30 peternak.
            Permasalahan tersebut ditambah dengan semakin sedikitnya generasi muda yang enggan melirik pertanian dan dalam hal ini sektor peternakan untuk terlibat dalam kehidpan para pemuda. Pandangan generasi pemuda terhadap peternakan dipandang negatif karena peternakan itu bau dan menjijikan. Memang dalam hal ini peternakan akan berhubungan dengan hal yang seperti itu, namun dibalik itu semua sektor peternakan memiliki prospek yang baik dalam menopang kehidupan bangsa. Generasi muda adalah generasi yang akan membawa perubahan dimasa yang akan datang. Generasi muda pembangun sektor peternakan menjadi penggerak untuk kemajuan peternakan di Indonesia. Hal itu semua didasari melalui paradigma dan sudut pandang untuk cinta pada peternakan.
Pendekatan Kreativitas
            Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini sudut pandang dari beberapa pemuda terhadap peternakan dipandang negatif (bau dan menjijikan). Dalam mewujudkan generasi muda yang cinta terhadap peternakan, perlu adanya pendekatan sudut pandang untuk mengubah paradigma pemuda terhadap peternakan. Salah satu cara adalah dengan sosialisasi pendekatan kreativitas peternakan bagi para pemuda. Perlu adanya bentuk kerjasama antara pemerintah dan juga pihak akademisi untuk membangun sudut pandang positif terhadap peternakan. Pemerintah dapat berperan dalam menentukan suatu kebijakan dalam membentuk generasi muda yang cinta terhadap pertanian dalam arti luas yang meliputi bidang peternakan. Sedangkan akademisi dapat mensosialisasikan ilmu peternakan dengan pendekatan kreativitas. Dalam hal ini pihak akademisi adalah mahasiswa peternakan. Mahasiswa peternakan memiliki posisi yang ideal dalam membangun paradigma pemuda untuk cinta peternakan.
            Kegiatan mahasiswa yang lebih bersifat sosial dapat dimanfaatkan untuk membangun para generasi muda diluar mahasiswa peternakan untuk cinta terhadap peternakan. Kegiatan sosialisasi berupa kampanye gizi bagi para masyarakat dan juga pemuda perlu ditingkatkan, selain itu pendekatan kreativitas peternakan yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan kegiatan menyayangi hewan, khususnya hewan ternak, ataupun dapat mengadakan pentas kesenian peternakan, salah satu contohnya adalah lomba mewarnai dengan target sasaran siswa-siswi di TK, SD, SMP, dan SMA. Intensitas kegiatan peternakan terhadap generasi muda dengan sendirinya akan terbentuk sudut pandang bahwa pentingnya peternakan bagi generasi muda dan masyarakat Indonesia. Paradigma yang positif pada peternakan akan menimbulkan rasa cinta untuk bersahabat dengan peternakan.

Oleh : Hafidz Ilman Albana

Tidak ada komentar: