“Masalah
pertanian adalah masalah hidup dan matinya suatu Bangsa”
Presiden
Republik Indonesia ke-1
_ Ir. Soekarno_
Sebuah perkataan yang singkat namun
penuh dengan makna perjuangan. Sudut pandang presiden mengenai pertanian
menjadi suatu hal yang penting dimasanya hingga saat ini, namun seiring dengan
berjalannya waktu, era globalisasi telah singgah di Indonesia dan membuat suatu
perubahan dalam bidang pertanian. Ladang sawah, perkebunan, pertambakan, dan peternakan
sudah banyak berubah menjadi gedung-gedung tinggi perkantoran dan perumahan.
Sebuah ironi bangsa yang besar dengan jumlah penduduk saat ini mencapai 237
juta jiwa tidak diimbangi dengan lahan-lahan pertanian dalam arti luas yang
memang dibutuhkan untuk kepentingan masyarakat Indonesia. Sebagai contoh dalam
pertanian, Karawang yang dikenal sebagai kota lumbung padi, kini tempat-tempat
strategis yang dahulunya adalah ladang sawah berubah menjadi gedung-gedung yang
bersifat pribadi. Samah halnya dalam bidang peternakan. Di Jakarta, didaerah
Kuningan, dahulu masih terdapatnya banyak kelompok peternakan sapi perah, namun
kebijakan dari Pemrov DKI telah merubah peternakan menjadi gedung perkantoran.
Saat ini di Kuningan hanya terdapat 1 peternak sapi perah yang dahulu mencapai
30 peternak.
Permasalahan tersebut ditambah
dengan semakin sedikitnya generasi muda yang enggan melirik pertanian dan dalam
hal ini sektor peternakan untuk terlibat dalam kehidpan para pemuda. Pandangan
generasi pemuda terhadap peternakan dipandang negatif karena peternakan itu bau
dan menjijikan. Memang dalam hal ini peternakan akan berhubungan dengan hal
yang seperti itu, namun dibalik itu semua sektor peternakan memiliki prospek
yang baik dalam menopang kehidupan bangsa. Generasi muda adalah generasi yang
akan membawa perubahan dimasa yang akan datang. Generasi muda pembangun sektor
peternakan menjadi penggerak untuk kemajuan peternakan di Indonesia. Hal itu
semua didasari melalui paradigma dan sudut pandang untuk cinta pada peternakan.
Pendekatan Kreativitas
Tidak
dapat dipungkiri bahwa saat ini sudut pandang dari beberapa pemuda terhadap
peternakan dipandang negatif (bau dan menjijikan). Dalam mewujudkan generasi
muda yang cinta terhadap peternakan, perlu adanya pendekatan sudut pandang
untuk mengubah paradigma pemuda terhadap peternakan. Salah satu cara adalah
dengan sosialisasi pendekatan kreativitas peternakan bagi para pemuda. Perlu
adanya bentuk kerjasama antara pemerintah dan juga pihak akademisi untuk
membangun sudut pandang positif terhadap peternakan. Pemerintah dapat berperan
dalam menentukan suatu kebijakan dalam membentuk generasi muda yang cinta
terhadap pertanian dalam arti luas yang meliputi bidang peternakan. Sedangkan
akademisi dapat mensosialisasikan ilmu peternakan dengan pendekatan
kreativitas. Dalam hal ini pihak akademisi adalah mahasiswa peternakan.
Mahasiswa peternakan memiliki posisi yang ideal dalam membangun paradigma
pemuda untuk cinta peternakan.
Kegiatan mahasiswa yang lebih
bersifat sosial dapat dimanfaatkan untuk membangun para generasi muda diluar
mahasiswa peternakan untuk cinta terhadap peternakan. Kegiatan sosialisasi
berupa kampanye gizi bagi para masyarakat dan juga pemuda perlu ditingkatkan,
selain itu pendekatan kreativitas peternakan yang dapat dilakukan adalah dengan
mengadakan kegiatan menyayangi hewan, khususnya hewan ternak, ataupun dapat
mengadakan pentas kesenian peternakan, salah satu contohnya adalah lomba
mewarnai dengan target sasaran siswa-siswi di TK, SD, SMP, dan SMA. Intensitas kegiatan
peternakan terhadap generasi muda dengan sendirinya akan terbentuk sudut
pandang bahwa pentingnya peternakan bagi generasi muda dan masyarakat Indonesia.
Paradigma yang positif pada peternakan akan menimbulkan rasa cinta untuk
bersahabat dengan peternakan.
Oleh : Hafidz Ilman Albana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar