Translate

Minggu, 15 Juli 2012


Prospek Peternakan di Pulai Nusa Tenggara Barat
Oleh : Hafidz Ilman A.*

            Nusa Tenggara Barat, pulau yang menyimpan sejuta keindahan dan sumberdaya alam menjadi bagian dari kekayaan Indonesia. Dengan luas total mencapai 20. 153 km2, pulau ini memiliki keberagaman suku dan budaya yang terdiri dari Suku Sasak, Suku Bima, Suku Sumbawa, Suku Bali, dan Suku Indo-Arya. Hamparan tanah yang luas menjadikan pulau ini berpotensi dibidang pertanian khususnya bidang peternakan. Dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Ekonomi Indonesia (MP3EI), Bali dan Nusa Tenggara termasuk dalam wilayah yang konsen dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Fokus pertumbuhan ekonomi diwilayah ini adalah “Pintu Gerbang dan Pendukung Pangan Nasional”.  Dukungan pangan nasional dalam hal ini dapat dikatakan pendukung pangan hewani asal ternak.
            Sensus ternak pada 2011 lalu, populasi sapi nasional mencapai 14,8 juta ekor dan 14,18 % diantaranya berasal dari Bali dan Nusra dengan jumlah populasi 2,1 juta ekor. Tingkat pertumbuhan rata-rata populasi sapi pun tergolong cukup baik yaitu 5,32 % setiap tahunnya. Dengan tingkat pertubuhan sapi yang baik setiap tahunnya, populasi sapi akan terus meningkat dan akan menjadikan pulau Bali dan Nusa Tenggara menjadi pulau sapi.
            Mayoritas sapi yang berada di Bali dan Nusa Tenggara adalah sapi bali, termasuk di NTB. Sapi bali sudah adaptif sejak dahulu dengan kondisi lingkungan yang gersang dan panas serta tahan terhadap ketersediaan pakan yang minim. Sapi Bali di NTB memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif dibanding dengan sapi Bali asal provinsi lain. Di NTB masih terhampar luas lahan-lahan kosong, dan masyarakat sekitar menggunakan lahan tersebut sebagai ladang penggembalaan secara tradisional atau dengan metode pemeliharaan secara ekstensif, khususnya di daerah Sumbaawa yang masih terhampar luas lahan yang kosong. Berbeda dengan daerah Lombok yang mayoritas penduduk beternak secara intensif dan semi ekstensif.

Dukungan Pemerintah
            Melihat daerah NTB sangat potensial dalam meningkatkan perekonomian daerah dan nasional, Pemerintah Provinsi NTB membuat program untuk mendukung program pemerintah pusan mengenai swasembada daging pada tahun 2014. Program tersebut dinamakan program “Bumi Sejuta Sapi”. Program tersebut dicanangkan pada tahu 2011 dan terus dilakukan sampai saat ini. Manajemen pemeliharaan sapi oleh masyarakat sekitar masih dilakukan secara tradisional, tanpa memperhatikan keturunan dan juga persilangan. Hal tersebut yang menjadi salah satu tujuan dalam program “Bumi Sejuta Sapi”, yaitu untuk memperbaiki sistem pemeliharaan dengan menerapkan metode pencatatan atau recording agar sapi-sapi yang ada di NTB jelas asal usulnya dan menigkatkan produktifitas induk dan bibit. Dengan dilakukan recording, dapat mencegah terjadinya kawin sedarah (inbreeding) yang dapat menyebabkan penurunan kualitas sapi. Bantuan yang diberikan dalam mendukung program ini adalah pemberian bibit  kepada para peternak yang baru ingin menjalankan usaha sebagai peternak.
            Peningkatan perekonomian daerah menjadi hal yang serius dilakukan oleh pemerintah provinsi NTB dengan mengeluarkan SK mengenai pengaturan harga sapi Bali yang dijual luar pulau NTB dan juga memberikan intensif harga untuk menggairahkan peternak dalam memproduksi bibit unggul. Dukungan serupa dikeluarkan oleh Bupati Mataram dengan mengeluarkan peraturan mengenai standarisasi perkandangan dan kesehatan indukan dan juga bibit sapi Bali. Dengan dukungan tersebut, NTB menjadi “suplier tunggal” sapi Bali dengan jumlah yang cukup banyak ke seluruh wilayah di Indonesia.

Membangun Investasi
            Titik fokus objek pariwisata dalam Masterplan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia, dituju pada Bali dan Nusra. Pulau Bali sudah sangat terkenal di dunia Internasional karena memiliki keindahan alam yang luar biasa yang mampu menyedot langsung para turis mancanegara untuk datang ke Bali. Terdapat puluhan atau mungkin ratusan investor yang berada di Bali untuk berbisni. Berbeda halnya dengan NTB yang masih dalam proses berkembang dalam meningkatkan pertumbuhan perekonomian. Jumlah investor di NTB masih tergolong minim, termasuk investor dalam bidang peternakan.
            Potensi bisnis di bidang peternakn sangat menjanjikan, pasalnya di NTB telah melakukan ekspor ternak hidup ke berbagai daerah di Indonesia  setiap tahunnya. Potensi yang menguntungkan bisa dilihat dari aspek hulu peternakan, yaitu mengenai pembibitan ternak yang memang pemerintah belum memiliki pembibitan. Proses pembibitan dengan menerapkan metode recording oleh swasta akan semakin bertambah populasi sapi Bali dengan mutu bibit yang lebih baik. Selain itu aspek yang menguntungkan pada peternakan adalah aspek hilir. Di NTB, khususnya di Lombok masih minimnya RPH (Rumah Potong Hewan), padahal harga jual sapi hidup dan daging sapi memiliki perbandingan harga yang signifikan. Kegiatan ekspor ternak non-bibit yang di NTB bisa diubang menjadi daging segar yang siap dikirm keberbagai daerah di Indonesia. Hal ini tentu lebih memudahkan dalam hal transportasi dan dapat mengurangi kuota daging impor setiap tahunnya.

Perkembangan Ekonomi Rakyat
            Mayoritas penduduk NTB bekerja di perkebunan dan juga di peternakan. Program pemerintah pusat dan daerah untuk mendorong percepatan pertumbuhan perekonomian nasional akan berdampak pada perekonomian rakyat. Menjawab dalam hal dukungan pangan nasional, NTB melalui program “Bumi Sejuta Sapi” ini memiliki tujuan utama yaitu terciptanya masyarakat yang mandiri dengan pengembangan peternakan sapi Bali. Dalam sebuah keluarga yang memiliki 2 orang anak, dapat menjalani kehidupan dengan beternak 5-10 ekor sapi dengan manajemen yang baik. Sapi yang dimiliki terdiri dari indukan, pejantan, dan pedet. Dengan bantuan dari tenaga penyuluh yang disediakan pemerintah, tentu perputaran ekonomi keluarga tersebut akan berjalan dengan baik.
            Keberadaan investor di NTB ini akan membantu perekonomian rmasyarakat sekitar. Dengan membentuk industri atau perusahaan, tentunya akan membutuhkan tenaga pekerja yang berasal dari masyarakat NTB. Sebagai contoh investasi dibidang pembibitan. Tenaga pekerja yang dibutuhkan adalah petugas kandang, petugas kebersihan lingkungan, dan tugas pencari pakan. Semua itu memiliki kuota yang berbeda-beda. Sejauh ini, dengan hal demikian lah para masyarakat bisa memperoleh nilai ekonomi tambahan untuk kesejahteraan masyarakat NTB.

Wisata Kekayaan Alam
            Kekayaan alam pulau NTB saat ini mulai berkembang dengan pesat, mulai dari manajemen pengelolaan SDA (Sumber Daya Alam), hingga promosi ke mancanegara. Beberapa tempat yang menjadi andalan NTB khususunya Lombok yang menjadi tempat kunjungan para wisatawan adalah pantai Senggigi, Tanjung Aan, dan pantai di Gili Trawangan. Beberapa objek wisata tersebut telah menarik banyak wisatawan domestik maupun mancanegara. Potensi objek wisata di NTB sudah berkembang pesat dan akan terus berkembang seiring berjalannya waktu dan kepedulian masyarakat serta pemerintah terhadap keberadaan objek wisata di pulau NTB.
            Sejalan dengan program pemerintah NTB mengenai “Bumi Sejuta Sapi”, program tersebut memiliki potensi yang baik sebagai objek wisata yang berbasis edukasi. Kondisi peternakan rakyat bisa dijadikan objek wisata kepada para wisatawan yang berkunjung ke Lombok, NTB. Selain keindahan alam berupa pantai, NTB memiliki keindahan alam lainnya berupa pelestarian ternak lokal Indonesia. Wisatawan yang berkunjung diberi penjelasan mengenai potensi wilayah NTB dibidang peternakan dan pertanian. Hal tersebut akan berdampak positif terhadap pertumbuhan perekonomian masyarakat sekitar khususnya para peternak, dan sekaligus dapat menjadi ajang promosi nasional kepada para wisatawan asing mengenai potensi dan keunggulan ternak lokal Indonesia, dalam hal ini adalah sapi Bali. Dalam menjalankan program edukasi alam tersebut, perlu adanya dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah pusat dan daerah gencar mengadakan promosi skala nasional maupun internasional untuk mengunjungi NTB yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang beragam. Pihak akademisi berperan dalam mendampingi masyarakat dan memberi pemahaman mengenai ternak secara keseluruhan.

*Mahasiswa Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor
  Email : hafidzilman@hotmail.co.id

Tidak ada komentar: